masukkan script iklan disini
Oleh: Alumni HMI Medan
FORWAPEN | MEDAN - Musyawarah Daerah (Musda) KAHMI Kota Medan 2026 bukan sekadar forum pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, Musda merupakan momentum untuk menentukan arah, karakter, dan model kepemimpinan KAHMI Medan dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam konteks tersebut, gagasan dr. Ade Taufiq, Sp.OG mengenai penerapan sistem kepemimpinan presidium patut menjadi bahan diskusi bersama.
KAHMI merupakan organisasi alumni HMI yang memiliki karakter sangat beragam. Para alumninya datang dari berbagai profesi, latar belakang sosial, suku, budaya, serta pengalaman organisasi. Keragaman tersebut merupakan kekuatan, tetapi sekaligus membutuhkan pola pengelolaan organisasi yang mampu menjaga keseimbangan dan keterwakilan.
Karena itu, kepemimpinan presidium dapat dipandang sebagai salah satu pilihan untuk membangun kepemimpinan kolektif, di mana tanggung jawab organisasi tidak bertumpu pada satu figur semata, melainkan dijalankan secara bersama-sama berdasarkan pembagian peran dan tanggung jawab.
Bagi KAHMI Kota Medan yang memiliki jumlah alumni dan dinamika organisasi yang besar, pendekatan kolektif semacam ini relevan untuk dipertimbangkan. Tujuannya bukan sekadar membagi kewenangan, tetapi memastikan bahwa berbagai potensi dan gagasan yang ada di dalam KAHMI dapat terakomodasi secara konstruktif.
Pada hakikatnya, KAHMI bukan organisasi yang semestinya dibangun atas kepentingan personal. Ia merupakan ruang silaturahmi, penguatan jaringan, pengabdian, dan persaudaraan para alumni HMI.
Karena itu, perbedaan pilihan dalam Musda merupakan sesuatu yang wajar. Demokrasi organisasi memang membutuhkan dinamika. Namun, dinamika akan menjadi produktif apabila diarahkan untuk memperkuat institusi, bukan untuk membangun sekat, permusuhan, atau saling menjatuhkan.
Pesan yang disampaikan Ade Taufiq menjadi relevan: jika sebuah organisasi dapat dibangun melalui gotong royong dan kebersamaan, mengapa harus berjalan sendiri-sendiri?
Kepemimpinan kolektif bukan berarti menghilangkan figur atau otoritas kepemimpinan. Sebaliknya, sistem tersebut menuntut adanya komunikasi, koordinasi, kedewasaan, dan kesediaan untuk berbagi tanggung jawab. Dengan demikian, kekuatan organisasi tidak bergantung pada satu orang, tetapi tumbuh dari kontribusi banyak orang.
Terlebih, sistem presidium telah dikenal dalam struktur organisasi KAHMI pada tingkatan tertentu. Hal ini dapat menjadi referensi bahwa kepemimpinan kolektif merupakan salah satu model yang dapat digunakan untuk mengelola organisasi dengan karakter plural dan memiliki basis anggota yang luas.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang paling dominan, melainkan bagaimana KAHMI Medan mampu menjadi rumah bersama bagi seluruh alumni HMI.
Musda KAHMI Kota Medan 2026 hendaknya menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, bukan mempertajam perbedaan; memperkuat persaudaraan, bukan memperbesar konflik; serta membangun organisasi, bukan membangun ego personal.
KAHMI yang besar membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul. Dan KAHMI yang kuat lahir ketika seluruh elemen di dalamnya bersedia menurunkan ego, memperkuat kebersamaan, dan bekerja secara kolektif untuk tujuan yang lebih besar.
Sebab, kebesaran KAHMI tidak semestinya diukur dari kuatnya satu figur, tetapi dari seberapa kuat seluruh keluarga besarnya mampu berjalan bersama.
(Redaksi)



